tulisanku

just keep the things that i think
  • Antarkan Aku untuk Merindukan-Nya










    Judul : Daun Pun Berdzikir
    Penulis : Taufiqurrahman Al-Azizy
    Terbit : Mei 2010
    Penerbit : Laksana
    Tebal Buku : 361 halaman
    Resentator : Dza

    Cinta kepada Tuhan tak bisa tergantikan dengan cinta yang lain, karena keabadian yang ditawarkannya tidak pernah akan ditawarkan siapapun juga.

    Taufiqurrrahman Al-Azizy kembali menorehkan karyanya setelah sukses dengan novel best seller Trilogi Makrifat Cinta yang terdiri atas Syahadat Cinta, Musafir Cinta dan Makrifat Cinta, serta beberapa novel lainnya. Tahun 2010 ini karya terbarunya tersebut berjudul Daun Pun Berdzikir. Sebuah novel religius yang menceritakan tentang penggapaian cinta yang hakiki kepada Sang Izati.
    Kisah ini bermula ketika seorang pemuda benama Haydar kehilangan sang ayah terkasih untuk selama-lamanya tanpa sempat bersua sang ayah untuk terakhir kalinya. Orang-orang dukuh Gagatan menganggapnya gila karena perilaku aneh sepeninggal ayahnya. Ditambah lagi tentang isu yang beredar di masyarakat bahwa Haydar yang hanya anak singkong miskin mencintai Shofi, dara jelita, anak beras dari keluarga berpunya yang kecantikannya menandingi kecantikan bidadari khayangan. Perbedaan inilah yang memisahkan cinta kasih mereka sebagai seorang sahabat yang sejak kecil tumbuh bersama dalam rerimbunan pohon, padang rumput yang hijau, dan gemericik sungai pedukuhan. Namun pada akhirnya orang dan status sosial yang menjadi tembok penghalang tali persahabatan yang telah mereka bina hingga nyaris putus dan terabaikan begitu saja.
    Harta memang seringkali membutakan hati manusia dan silaunya dapat meruntuhkan akal sehat siapa saja yang tak cukup memiliki benteng iman yang kuat. Apalagi kehadiran Bram, pemuda kota yang tampan dan bergelimang harta di tengah-tengah dukuh Gagatan guna sebuah penelitian, semakin membuat Shofi terusik. Ibunya yang jatuh hati untuk menyandingkan Bram dengan Shofi semakin meninggikan tembok pemisah pesahabatannya dengan Haydar. Bukan kekayaan materi yang dicari oleh seorang Shofi, melainkan kekayaan jiwalah yang ia cari. Inilah yang tak dapat ditemukan pada sosok Bram, justru Haydar pemuda gila dan miskin di mata ibunya maupun masyarakat dukuh Gagatan yang memilikinya.
    Bram yang cemburu kepada Haydar, tak kuasa untuk tidak melakukan sesuatu agar sang kekasih hati, tak berpaling dari sisinya. Rencana jahat ia buat untuk mempermalukan Haydar di depan Shofi. Tanpa segan teman-teman Bram , Nana dan Rohman serta ibunda Shofi juga ikut membantu dalam rencana ini.
    Kesabaran Haydar dalam menerima gunjingan warga terhadap dirinya yang membuat kekuatan jiwanya memancarkan cahaya kearifan. Dalam novel ini sosok Haydar digambarkan memiliki karakter yang penuh ketabahan dan kesabaran. Namun, terdapat sedikit keganjilan terhadap hal ini, sikap Haydar sepeninggal ayahnya justru kontradiksi dengan karakter yang dilekatkan penulis. Jiwa yang seolah-olah terguncang yang ditandai dengan perilaku aneh dan tak wajar yang ia tunjukkan dengan betapa seringnya ia melamun, tertawa tak jelas kemudian tia-tiba isak tangis menggelayuti raut mukanya. Pembaca akan menangkap kesan bahwa Haydar ini tidak dapat menerima kepergian ayahnya, sedangkan di sisi lain penulis ingin menekankan sifat sabar yang dimiliki Haydar.
    Banyaknya syair-syair indah yang dituliskan disini sebagai ungkapan hati dan perasaan justru membuat pembaca jenuh, kesan lebay akan mudah ditangkap pembaca. Kekurangan lain dari novel karya Alumni Pesantren Hidayatul Qur’an ini adalah terdapat bagian-bagian cerita yang menggantung sehingga mengurangi kenikmatan pembaca dalam memahami alur cerita. Seperti, Nayla yang tiba-tiba bersanding dengan Haydar, Rohman yang tiba-tiba mau bertanggung jawab atas fitnah yang ditujukan pada Haydar.
    Disamping kekurangannya, seperti novel-novel Taufiqurrahman sebelumnya yang menjadi best seller layaknya Trilogi Makrifat Cinta, novel ini masih menjadi sebuah bacaan baik sebagai pembangun jiwa. Kita diajarkan tentang cara bagaimana mencintai Yang Maha Mencintai sebelum mencintai sesuatu yang lain, mencintai segala sesuatu karena cinta kepada Allah. Banyak pelajaran yang dapat diambil dari sosok Bram. Perjalanan kehidupan yang ia lewati membuatnya semakin dewasa. Pada akhirnya rasa rindu yang teramat pada Sang Pencipta membuatnya menapaki jalan yang lurus dan menemukan arti cinta serta kebahagiaan. Kesabaran dan ketabahan serta kesantunan yang dapat memudarkan kegelapan menjadi suatu yang terang benderang, melalui bacaan ini lagi-lagi jiwa kita akan terketuk untuk merindukan Ilahi Rabbi.

4 komentar:

  1. MuFNa mengatakan...

    Harta memang seringkali membutakan hati manusia dan silaunya dapat meruntuhkan akal sehat siapa saja yang tak cukup memiliki benteng iman yang kuat <-- ku suka kata2 yang ini wits... hahaha.. realita banget

  2. Tsiqoh mengatakan...

    makasih mz atas komennya,, ya semoga kita senantiasa memiliki benteng iman yang kuat. Amin ya Robbal Alamin

  3. Anonim mengatakan...

    Allah be with U ..

  4. Anonim mengatakan...

    Allah be with U ..

Posting Komentar

TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGANNYA